Pontianak, (fdki.iainptk.ac.id) 25 Mei 2026 – Suasana akademik yang hangat dan penuh makna menyelimuti Ruang Dekanat Lantai 2 Tower C Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Pontianak, Senin (25/5/2026). Bertajuk Seminar dan Bedah Buku Borneo Heritage Forum, kegiatan ini berhasil menghadirkan dua materi besar yang menggugah kesadaran budaya sekaligus kemanusiaan: kearifan lokal masyarakat Melayu Sambas pasca konflik serta rekonstruksi dakwah humanis bagi kelompok marginal di era digital.

Acara yang dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa dari Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) FDKI IAIN Pontianak, berlangsung interaktif dan penuh refleksi. Bertindak sebagai moderator adalah Dr. Juniawati, S.Sos.I., M.Soc.Sc. , dosen KPI yang lincah memandu jalannya diskusi dari awal hingga akhir. Kegiatan ini yang semula di isi oleh tiga orang pemateri, tetapi salah satu pemateri berhalangan hadir, dengan berkurangnya pemateri tidak menurunkan semangat berdiskusi para dosen dan mahasiswa FDKI IAIN Pontianak.

Sesi Pertama: “Sapa dan Base” – Merakit Anak Bangsa Pasca Konflik Sambas

Pemateri pertama, Dr. Wahab, M.Ag. , Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana IAIN Pontianak, membuka wawasan peserta tentang Budaya Sapa dan Base sebagai identitas masyarakat Melayu Sambas sekaligus perekat sosial pasca konflik.

Dengan gaya bertutur yang khas, Dr. Wahab menjelaskan bahwa budaya sapa adalah kebiasaan menyapa orang lain ketika berpapasan, baik yang dikenal maupun tidak. Bentuk sapaan sederhana seperti “Nak ke mane?” atau “Dari pasar ke?” ternyata menyimpan makna mendalam.

“Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan komunikasi, melainkan simbol perhatian, kepedulian, dan penghormatan antarsesama anggota masyarakat. Budaya sapa mencerminkan eratnya hubungan sosial masyarakat Melayu Sambas,” tuturnya.

Selanjutnya, beliau mengupas konsep Base, yaitu sistem pemanggilan khas masyarakat Melayu Sambas menggunakan istilah seperti Along, Angah, Ude, Acik, atau Usu tanpa menyebut nama asli. Sistem panggilan ini memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam karena berkaitan dengan struktur keluarga, usia, dan tata krama.

“Budaya base menunjukkan bahwa masyarakat Melayu Sambas sangat menjunjung tinggi etika dalam berkomunikasi,” tegas Dr. Wahab.

Kesimpulan menggugah dari pemateri pertama:

Konflik Sambas tidak hanya berdampak pada aspek keamanan, tetapi juga mempengaruhi nilai sosial dan budaya masyarakat. Namun demikian, masyarakat Melayu Sambas tetap memelihara budaya Sapa dan Base. Kedua budaya tersebut menjadi identitas budaya sekaligus sarana memperkuat keharmonisan, solidaritas sosial, dan rekonsiliasi antaretnis. Dengan demikian, kearifan lokal memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian dan integrasi sosial di masyarakat multietnis.

Sesi Kedua: Dakwah Humanis di Era Digital – Solusi Psikologis bagi ODGJ dan Tunawisma

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Hj. Cucu, M.Ag. , Dosen Manajemen Dakwah dan KPI IAIN Pontianak. Dengan pendekatan yang tajam dan empatik, beliau mengupas tuntas tentang Rekonstruksi Dakwah Humanis di Era Digital: Solusi Psikologis terhadap Marginalisasi ODGJ dan Tunawisma di Media Sosial.

Dr. Cucu memaparkan bahwa dakwah di era digital tidak lagi cukup dipahami sebagai sekadar penyampaian pesan keagamaan secara verbal melalui media sosial. Dakwah harus bertransformasi menjadi intervensi sosial yang bersifat transformatif, humanis, dan berorientasi pada pemulihan martabat manusia.

“Dakwah diarahkan untuk membebaskan, merawat, serta mengembalikan nilai kemanusiaan kelompok marginal seperti Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan tunawisma yang selama ini sering mengalami stigma, diskriminasi sosial, dan eksklusi digital,” ujar Dr. Cucu dengan nada penuh kesungguhan.

Beliau menegaskan bahwa paradigma ini selaras dengan prinsip dakwah Islam yang menempatkan nilai rahmatan lil ‘alamin sebagai dasar pembentukan solidaritas sosial, empati kolektif, dan perlindungan terhadap kelompok rentan.

Beberapa poin penting dari pemaparan Dr. Cucu:

Dakwah humanis tidak hanya mengacu kepada hukum dan ancaman Allah, tetapi berusaha mendidik manusia untuk bisa lebih memanusiakan manusia lainnya dan mencintai sesamanya sebagaimana ia mencinta dirinya sendiri. Kesalehan spiritual dan sosial harus bersinergi dan seimbang.

Pendekatan psikologi sosial dalam model dakwah humanis berfungsi sebagai kerangka ilmiah untuk memahami bagaimana persepsi sosial, pandangan, dan perilaku masyarakat terbentuk melalui interaksi digital.

Media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga arena konstruksi realitas sosial yang dapat memperkuat maupun mengurangi stigma terhadap kelompok marginal.

Dakwah digital perlu dikembangkan melalui komunikasi empatik, narasi suportif, dan pola interaksi inklusif yang mampu membangun kepercayaan sosial serta mendorong perubahan perilaku secara berkelanjutan.

Kesimpulan kuat dari pemateri kedua:

Keberhasilan dakwah di era digital tidak hanya diukur dari luasnya penyebaran pesan keagamaan, tetapi juga dari kemampuannya membangun kesadaran sosial dan transformasi perilaku masyarakat menuju budaya yang lebih humanis dan berkeadaban. Digitalisasi dakwah bukan diposisikan sebagai tujuan utama, melainkan sebagai medium strategis untuk memperluas dampak sosial, memperkuat jejaring solidaritas, merekrut relawan kemanusiaan, dan membangun norma sosial baru yang lebih inklusif.

Sesi Diskusi: Pertanyaan Kritis dari Dosen dan Mahasiswa

Setelah pemaparan materi, moderator Dr. Juniawati membuka sesi diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif. Para dosen turut memberikan masukan dan penguatan terhadap kedua materi, sementara mahasiswa KPI menunjukkan antusiasme tinggi dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis.

Beberapa pertanyaan menarik yang muncul dan di jawab oleh Dr. Wahab dan Dr. Cucu dengan sabar dan mendalam menjawab setiap pertanyaan, memberikan perspektif teoretis sekaligus praktis yang langsung bisa diaplikasikan.

Penutup: Harapan untuk Borneo Heritage Forum ke Depan

Moderator Dr. Juniawati secara resmi menutup acara dengan menyampaikan apresiasi kepada kedua pemateri, para dosen, dan mahasiswa yang telah berpartisipasi aktif.

“Semoga Borneo Heritage Forum ini tidak hanya menjadi ajang bedah buku dan diskusi akademik, tetapi juga menjadi gerakan nyata untuk melestarikan kearifan lokal dan memperjuangkan dakwah yang lebih humanis, inklusif, dan berkeadaban. Sampai jumpa di forum-forum berikutnya,” tutupnya.

Dengan terselenggaranya seminar ini, FDKI IAIN Pontianak kembali membuktikan komitmennya sebagai pusat kajian dakwah dan komunikasi yang tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga menyentuh akar budaya dan realitas sosial kemanusiaan.

Humas FDKI IAIN Pontianak