Pontianak, 15 Juli 2026 – Suasana akademik yang dinamis dan penuh semangat menyelimuti Ruang 310 Tower C Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Pontianak pada Rabu (15/7/2026). Bertajuk Diskusi Ilmiah Mahasiswa FDKI IAIN Pontianak, kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa lintas program studi untuk bertukar gagasan, menguatkan budaya diskusi akademik, serta merumuskan rekomendasi bagi kemajuan fakultas. Mengusung tema besar “Transformasi Dakwah Berbasis Inovasi, Digitalisasi, dan Pemberdayaan Masyarakat” , diskusi ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai prodi di lingkungan FDKI, yaitu Bimbingan dan Konseling Islam (BKI), Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), serta Manajemen Dakwah (MD). Tidak ketinggalan, pengurus DEMA FDKI, pengurus HMPS dari ketiga prodi, serta perwakilan Rumah Literasi turut hadir memeriahkan kegiatan. Kehadiran lintas elemen ini menjadikan diskusi semakin kaya akan perspektif dan ide-ide segar.


Memasuki sesi inti, moderator Muhammad Efsal , selaku Formateur Ketua DEMA FDKI, dengan piawai memandu jalannya diskusi. Beliau memperkenalkan empat panelis mahasiswa yang menyajikan gagasan cemerlang tentang peran AI dalam akademik dan dakwah.


Panelis pertama, Dwi Putri Ananda perwakilan DEMA FDKI, memaparkan makalah berjudul “Artificial Intelligence dalam Dunia Akademik & Profesi Dakwah (Peluang, Tantangan, dan Dilema Etis)” . Ia menjelaskan bahwa AI membuka peluang besar, seperti riset lebih cepat, terjemahan teks klasik, akses pengetahuan yang merata, serta produksi konten dakwah digital yang efisien. Namun, ia juga mengingatkan tantangan serius, seperti krisis orisinalitas berpikir, bias data keagamaan, dan dehumanisasi dakwah. “AI dijadikan sebagai alat bantu (tool), bukan sumber otoritas (authority) dalam keilmuan dan dakwah. Bekali mahasiswa FDKI dengan literasi digital yang kuat, perkuat literasi keislaman dan tradisi sanad keilmuan, serta jaga keikhlasan proses, bukan sekadar hasil akhir,” tegasnya.


Panelis kedua, Fajar Abdurrahman perwakilan mahasiswa Prodi KPI, menyampaikan makalah berjudul “Artificial Intelligence dalam Dunia Akademik dan Profesi Dakwah (Peluang, Tantangan, dan Dilema Etis bagi Mahasiswa KPI), High-Tech, High-Touch — Menjaga Sentuhan Manusia di Era Algoritma” . Ia menegaskan bahwa AI bukanlah musuh, melainkan wasilah untuk memperluas syiar Islam. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menentukan arah dakwah. “Yang menentukan arah dakwah tetaplah manusia yang memiliki ilmu, akhlak, integritas, dan tanggung jawab moral. Tantangan terbesar mahasiswa KPI bukan sekadar belajar menggunakan AI, tetapi belajar mengendalikan AI dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.



Setelah pemaparan dari kedua panelis pertama, moderator Muhammad Efsal membuka sesi pertanyaan dan diskusi. Suasana semakin hidup ketika mahasiswa dari berbagai prodi mulai mengangkat tangan untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Pertanyaan-pertanyaan kritis dilontarkan, seperti tentang bagaimana menjaga orisinalitas berpikir di tengah kemudahan AI, serta bagaimana memastikan akurasi informasi keagamaan yang dihasilkan oleh AI. Kedua panelis menjawab dengan lugas dan mendalam, diperkaya dengan pengalaman dan perspektif mereka masing-masing. Diskusi berlangsung santun dan terarah di bawah bimbingan moderator yang luwes.



Setelah sesi tanya jawab pertama selesai, moderator mempersilakan panelis ketiga, Alifah Maulidiyah perwakilan mahasiswa Prodi BKI, untuk memaparkan makalah berjudul “Artificial Intelligence (AI) dalam Dunia Akademik dan Profesi Dakwah Perspektif Bimbingan dan Konseling Islam” . Ia menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung dengan bijak untuk meningkatkan kualitas belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir. “Pemanfaatan AI diharapkan mampu memberikan manfaat yang optimal bagi setiap individu dan berbagai bidang lainnya dengan tetap mempertahankan keaslian yang ada,” jelasnya.



Selanjutnya, panelis keempat, Safarani perwakilan mahasiswa Prodi MD, menyampaikan makalah berjudul “Artificial Intelligence (AI) dalam Manajemen Dakwah” . Ia menjelaskan bahwa AI dapat menjadi sarana efektif yang mendukung manajemen dakwah melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan dakwah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatannya tetap menghadapi tantangan dan dilema etis, seperti akurasi informasi, kejujuran, dan perlindungan data jamaah. “AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu yang mendukung dakwah dengan tetap berlandaskan nilai amanah, hikmah, dan tanggung jawab sesuai ajaran Islam,” pungkasnya.



Moderator kembali membuka sesi pertanyaan dan diskusi untuk dua panelis terakhir. Mahasiswa semakin antusias menggali lebih dalam tentang implementasi AI dalam manajemen dakwah dan bimbingan konseling Islam. Diskusi berlangsung interaktif dan penuh makna, dengan peserta saling memberikan tanggapan dan masukan yang membangun. Setelah sesi diskusi selesai, moderator Muhammad Efsal secara resmi menutup rangkaian diskusi ilmiah. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panelis dan peserta yang telah berpartisipasi aktif.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada perwakilan panelis sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi ilmiah mereka. Penyerahan sertifikat dilakukan oleh perwakilan panitia yaitu Saripaini, MA selaku sekretaris panitia diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh peserta. Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat sangat tinggi. Mahasiswa aktif bertanya, menyanggah, dan memberikan masukan. Tidak ada yang terlihat pasif; semua larut dalam semangat akademik yang membara. Hasil dari diskusi ini sangat memuaskan.


Dengan suksesnya Diskusi Ilmiah Mahasiswa FDKI ini, diharapkan kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjadi tradisi akademik yang rutin. Semoga diskusi hari ini menjadi diskusi yang berkelanjutan dan melahirkan banyak manfaat bagi seluruh civitas akademika FDKI, serta menginspirasi mahasiswa untuk terus berkarya dan berdakwah di era digital dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan ketakwaan.
Humas FDKI IAIN Pontianak


