Fenomena rendahnya kinerja generasi sekarang dalam dunia kerja semakin sering menjadi bahan perbincangan. Banyak perusahaan, kantor negeri maupun swasta mengeluhkan menurunnya disiplin, loyalitas, serta daya tahan yang lemah menghadapi tekanan. Gambaran ini bukan sekadar stereotip yang lahir dari nostalgia generasi sebelumnya, melainkan realitas yang muncul dari survei produktivitas, laporan perusahaan, hingga pengalaman sehari-hari di ruang kerja. Pertanyaannya, mengapa generasi kini tampak kurang bersemangat dalam bekerja, dan bagaimana kita bisa memahami akar masalahnya?
Salah satu penyebab yang paling menonjol adalah budaya instan. Generasi yang tumbuh bersama teknologi digital terbiasa dengan kecepatan, hasil cepat, dan kepuasan segera. Pola ini membentuk mentalitas yang kurang sabar menghadapi proses panjang, padahal dunia kerja menuntut konsistensi, ketekunan, dan kesediaan untuk menunggu hasil. Ketidakjelasan jalur karier juga menjadi faktor penting. Banyak anak muda merasa bahwa kerja keras tidak menjamin kepastian masa depan, sehingga motivasi untuk berkomitmen jangka panjang menurun.
Di sisi lain, tekanan sosial media dan ekspektasi gaya hidup membuat generasi muda lebih rentan terhadap kelelahan mental atau burnout. Mereka sering kali merasa terjebak dalam rutinitas yang tidak memberi makna, sehingga pekerjaan dipandang sekadar kewajiban, bukan sarana aktualisasi diri. Jika ditelusuri lebih dalam, akar masalah rendahnya kinerja generasi sekarang tidak hanya bersumber dari individu, tetapi juga dari struktur sosial dan ekonomi. Sistem pendidikan kita masih terlalu menekankan hafalan dan nilai akademik, bukan keterampilan praktis dan pembentukan etos kerja.
Lingkungan keluarga yang permisif juga berperan, karena anak-anak kurang terbiasa dengan disiplin dan tanggung jawab sejak dini. Pasar kerja yang semakin fleksibel dengan pola kontrak jangka pendek mendorong generasi muda untuk berpindah-pindah pekerjaan, sehingga loyalitas terhadap perusahaan tidak terbentuk. Ketimpangan sosial yang semakin nyata menimbulkan rasa frustrasi, karena kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Semua ini membentuk kondisi di mana generasi muda merasa kehilangan arah dan makna dalam bekerja.
Untuk memahami fenomena ini, kita dapat merujuk pada beberapa teori sosiologi dan psikologi. Teori fungsionalisme menekankan bahwa setiap individu memiliki peran menjaga stabilitas sosial. Rendahnya kinerja generasi muda berarti ada fungsi sosial yang tidak berjalan optimal, sehingga keseimbangan masyarakat terganggu. Teori konflik menggambarkan dunia kerja sebagai arena pertarungan kepentingan, di mana generasi muda merasa terpinggirkan oleh sistem kapitalistik yang tidak memberi ruang adil.
Lalu, teori motivasi Maslow menunjukkan bahwa kebutuhan aktualisasi diri belum terpenuhi, sehingga motivasi kerja rendah. Sementara itu, teori modal sosial menekankan pentingnya jaringan, kepercayaan, dan norma kerja. Generasi muda yang kurang terhubung dengan komunitas kerja cenderung kehilangan etos dan rasa tanggung jawab kolektif.
Namun, fenomena ini tidak boleh hanya dilihat sebagai kelemahan generasi muda. Ada dimensi struktural yang perlu diperbaiki. Reformasi pendidikan menjadi solusi mendesak. Kurikulum harus menekankan keterampilan praktis, etos kerja, dan pembentukan karakter, bukan sekadar pencapaian akademik. Pelatihan soft skills seperti komunikasi, manajemen waktu, dan ketahanan mental harus menjadi bagian integral dari pembinaan tenaga kerja. Lembaga atau institusi juga perlu menciptakan budaya kerja yang bermakna, di mana pekerja merasa bahwa kontribusi mereka memiliki nilai lebih dari sekadar angka target.
Mentoring lintas generasi dapat menjadi jembatan, di mana senior bukan hanya pengawas, tetapi teladan dan pembimbing. Selain itu, kebijakan kesejahteraan dari pemerintah dan perusahaan harus memastikan bahwa kerja keras berbanding lurus dengan kesejahteraan, sehingga generasi muda tidak merasa sia-sia.
Generasi muda harus dipandang bukan sebagai beban, melainkan sebagai aset yang sedang mencari bentuk. Tugas kita bersama adalah menyediakan ekosistem yang mendukung mereka menemukan keseimbangan antara aktualisasi diri, tanggung jawab sosial, dan produktivitas ekonomi. Dengan langkah kolektif yang terarah, krisis kinerja dapat diubah menjadi energi kebangkitan etos kerja bangsa, yang bukan hanya relevan untuk hari ini, tetapi juga menentukan masa depan Indonesia di tengah persaingan global.
Penulis : Amalia Irfani
Dosen Prodi Manajemen Dakwah FDKI IAIN Pontianak


