Pontianak, (fdki-iainptk.ac.id) 21 Oktober 2026 – Ruang Rapat Dekanat FDKI IAIN Pontianak yang tenang dan representatif menjadi saksi berlangsungnya Diskusi Dosen FDKI IAIN Pontianak “Borneo Heritage Forum” pada Rabu (21/10/2026). Forum yang mengusung tema “Paradoks Modernitas: Problem dan Solusi Komunikasi Islam dalam Mengatasinya” ini menjadi kegiatan perdana bagi kepengurusan baru BHF, sekaligus menandai komitmen FDKI dalam membangun kesadaran melestarikan, mendokumentasikan, dan mempromosikan tradisi warisan budaya demi keberlanjutan pembangunan sumber daya manusia yang berlandaskan wawasan Borneo.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FDKI, Dr. Patmawati, M.Ag. , para Wakil Dekan, Kabag Tata Usaha FDKI, Hj. Suyati, S.Ag. , para Ketua dan Sekretaris Program Studi, Koordinator Pusat Penjaminan Mutu, para dosen di lingkungan FDKI, serta para dosen lintas fakultas. Kehadiran mereka mencerminkan antusiasme dan dukungan penuh terhadap pengembangan forum kajian dan riset kolaboratif yang menjadi wadah bagi para akademisi di lingkungan IAIN Pontianak. Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Forum Diskusi Dosen Borneo Heritage, Dr. Juniawati, S.Sos.I., M.Soc.Sc. , yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemateri dan para hadirin, serta permohonan maaf jika persiapan belum sepenuhnya sempurna.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dekan FDKI, Dr. Patmawati, M.Ag. , yang menyampaikan apresiasi kepada pemateri dan seluruh hadirin. Beliau mengungkapkan bahwa jadwal pemateri dan moderator telah disusun untuk satu tahun ke depan, memastikan keberlanjutan forum diskusi ini. “Selamat kepada pengurus baru, dan ini adalah kegiatan perdana untuk pengurus baru. Selamat datang semua dan selamat berdiskusi,” ujarnya sebelum secara resmi membuka kegiatan. Forum ini dilatarbelakangi oleh semangat membangun kesadaran, menghormati, dan melestarikan warisan budaya leluhur serta alam Borneo yang beragam, agar senantiasa tetap hidup di tengah masyarakat multibudaya, menjadi penghubung antargenerasi, serta mampu menginspirasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Sesi inti diskusi menghadirkan Prof. Dr. Ibrahim, S.Ag., MA. , yang membawakan materi mendalam tentang paradoks modernitas. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa modernitas adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Teknologi, kecerdasan rasional, dan konektivitas digital telah membuka peluang besar bagi kemajuan peradaban. Namun, kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan moral, kedalaman spiritual, dan kualitas hubungan antarmanusia. “Kita bisa semakin dekat secara digital, tetapi semakin jauh secara emosional; semakin mudah memperoleh informasi, tetapi semakin sulit menemukan makna; semakin maju secara material, tetapi belum tentu semakin damai secara batin,” ujarnya. Di sinilah komunikasi Islam menemukan relevansi dan tanggung jawab historisnya, dengan prinsip qaulan sadidan, ma’rufan, layyinan, balighan, dan kariman sebagai kekuatan yang menyatukan kebenaran, kebajikan, kesantunan, efektivitas, dan kemuliaan manusia.

Pesan penutup yang disampaikan Prof. Ibrahim begitu kuat dan menggugah. “Modernitas tanpa etika melahirkan keterasingan; teknologi tanpa kebijaksanaan melahirkan kehampaan. Maka, tugas komunikasi Islam bukan menghentikan kemajuan zaman, melainkan memastikan bahwa di tengah kemajuan itu, manusia tidak kehilangan kemanusiaannya, ilmu tidak kehilangan tanggung jawabnya, dan dakwah tidak kehilangan ruh kasih sayangnya,” tegasnya. Beliau juga berpesan agar para akademisi tidak hanya menjadi pengguna teknologi modern, tetapi menjadi pelaku peradaban yang mampu mengarahkan teknologi untuk kebaikan, menjadikan komunikasi sebagai jembatan persaudaraan, dan menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai cahaya bagi kemanusiaan. Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar, dibumbui dengan berbagai pertanyaan, jawaban, serta ide-ide baru. Antusiasme peserta sangat tinggi, tercermin dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Hasil dari kegiatan ini sangat memuaskan dan berkesan, memperkuat posisi BHF sebagai forum pengembangan intelektual yang mampu memperkuat tradisi akademik, memperluas jejaring kerja sama, serta meningkatkan citra FDKI IAIN Pontianak di tingkat lokal maupun nasional.

Humas FDKI IAIN Pontianak