Pontianak, (fdki-iainptk.ac.id) 23 Oktober 2026 – Ruang 311 Tower C Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Pontianak yang tenang dan representatif menjadi saksi berlangsungnya Diskusi Mahasiswa FDKI IAIN Pontianak Tahun 2026 pada Kamis (23/10/2026). Mengusung tema “Tak Ada Sejarah Tanpa Manuskrip”, kegiatan ini bertujuan membangun suasana akademik dan meningkatkan kualitas mutu akademik di lingkungan fakultas. Diskusi yang dimoderatori oleh Saripaini, MA ini dihadiri oleh Kabag FDKI beserta panitia kegiatan, serta para mahasiswa dari tiga program studi, yaitu Bimbingan Konseling Islam, Komunikasi Penyiaran Islam, dan Manajemen Dakwah.



Sesi inti diskusi menghadirkan Dr. Patmawati, M.Ag., yang membawakan materi mendalam tentang sejarah peradaban Islam Borneo melalui studi manuskrip kebudayaan Kalimantan Barat. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa manuskrip bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan jendela untuk memahami bagaimana Islam tumbuh, berkembang, dan membentuk peradaban masyarakat Borneo. Sejarah Islam di Kalimantan Barat tidak cukup direkonstruksi hanya melalui arsip kolonial, tradisi lisan, makam, atau peninggalan fisik. Manuskrip lokal perlu ditempatkan sebagai sumber sejarah penting karena menyimpan rekaman pemikiran ulama, tradisi keilmuan, pendidikan, hukum, tasawuf, hubungan antarkesultanan, serta jaringan intelektual yang menghubungkan Borneo dengan dunia Melayu dan pusat-pusat keilmuan Islam.



Beliau juga menekankan bahwa penelitian manuskrip harus bergerak melampaui kegiatan membaca dan menginventarisasi naskah. Melalui dokumentasi, kritik teks, kajian kodikologi dan paleografi, serta kontekstualisasi sosial-historis, manuskrip dapat membantu merekonstruksi perjalanan intelektual dan dinamika sosial umat Islam di Borneo secara lebih utuh dan berbasis bukti. “Manuskrip bukan sekadar tulisan yang diwariskan oleh masa lalu, melainkan suara peradaban yang menunggu untuk didengar kembali. Di dalamnya tersimpan jejak ulama, perjalanan ilmu, pergulatan budaya, dan ingatan kolektif masyarakat Borneo. Membaca manuskrip berarti membaca kembali jati diri kita; menelitinya berarti menghidupkan warisan intelektual; dan melestarikannya berarti memastikan bahwa peradaban masa lalu tetap memberi arah bagi masa depan,” tegasnya dengan penuh semangat.



Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa kita tidak dapat membangun masa depan peradaban Islam Borneo dengan melupakan sumber-sumber pengetahuan yang membentuk masa lalunya. Manuskrip harus ditemukan, didokumentasikan, diteliti, dan diwariskan sebagai bagian dari tanggung jawab akademik sekaligus tanggung jawab kebudayaan. “Peradaban yang besar bukan hanya peradaban yang meninggalkan sejarah, tetapi juga peradaban yang mampu membaca, memahami, dan menghidupkan kembali warisan sejarahnya,” tutupnya.



Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar, dibumbui dengan berbagai pertanyaan, jawaban, serta ide-ide baru dari para peserta. Antusiasme mahasiswa sangat tinggi, tercermin dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Hasil dari kegiatan ini sangat memuaskan dan berkesan, memperkuat posisi FDKI IAIN Pontianak sebagai fakultas yang berkomitmen membangun budaya akademik yang unggul dan berdaya saing.






Humas FDKI IAIN Pontianak


