Pontianak, (fdkiiainptk.ac.id) 22 Juli 2026 – Suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan menyelimuti Maktab Tuli As-Sami Pontianak pada Rabu (22/7/2026). Bertajuk PkM Internasional Kolaboratif Prodi Manajemen Dakwah FDKI IAIN Pontianak bersama Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), kegiatan ini menjadi momen bersejarah dalam upaya memperluas dakwah dan pendidikan inklusif bagi penyandang tuli di Kota Pontianak. Kegiatan yang dihadiri oleh sejumlah tamu istimewa, yaitu YB Datuk Rioki @ Mohammad Razi Sitam selaku Timbalan/ Wakil Menteri Pembangunan Kesejahteraan Komuniti Sarawak – Malaysia, Prof. Dr. Tarmizi Bin Masron selaku Guru Besar UNIMAS – Sarawak Malaysia, Dr. Suhra Wardi, M.Si selaku Ketua Program Studi Manajemen Dakwah FDKI IAIN Pontianak, Arief Adi Purwoko, S. Fil., M.Sc selaku Sekretaris Program Studi Manajemen Dakwah FDKI IAIN Pontianak serta Arul Maulana selaku Penggagas dan Pendiri Maktab Tuli As-Sami Pontianak beserta jajaran pendidik. Tidak ketinggalan, mahasiswa PkM IAIN Pontianak, mahasiswa PkM Universitas Tanjungpura, serta masyarakat di lingkungan maktab turut hadir memeriahkan kegiatan.



Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Suhra Wardi, M.Si, selaku Ketua Program Studi Manajemen Dakwah FDKI IAIN Pontianak sekaligus pembawa acara. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan selamat datang dan rasa terima kasih yang mendalam kepada para tamu yang hadir, khususnya dari Malaysia. “Selamat datang kepada para tamu istimewa yang telah meluangkan waktu untuk hadir di tengah-tengah kami. Kehadiran YB Datuk Rioki dan Prof. Tarmizi merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami, dan semoga kolaborasi ini menjadi pintu bagi kerjasama yang lebih luas ke depannya,” ujar Dr. Suhra. Selanjutnya, YB Datuk Rioki @ Mohammad Razi Sitam menyampaikan sambutan yang menginspirasi. Beliau mengucapkan terima kasih atas sambutan hangat dari IAIN Pontianak dan Maktab Tuli As-Sami, serta mengungkapkan bahwa di bawah kementeriannya terdapat 8 jenis atau tipe bantuan yang disediakan bagi penyandang disabilitas di Sarawak. “Kami memiliki komitmen yang kuat untuk kesejahteraan komunitas disabilitas, termasuk penyandang tuli. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan mereka mendapatkan hak yang sama,” ujarnya.



Sambutan dilanjutkan oleh Prof. Dr. Tarmizi Bin Masron, Guru Besar UNIMAS, yang memperkenalkan rombongan yang dibawanya dan menjelaskan bahwa di Malaysia juga membuka pendidikan formal dan nonformal bagi penyandang tuli. “Kami di UNIMAS memiliki perhatian besar terhadap pendidikan inklusif. Kami percaya bahwa setiap orang, apapun kondisinya, berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak,” jelasnya. Sambutan terakhir disampaikan oleh Arul Maulana, Penggagas dan Pendiri Maktab Tuli As-Sami Pontianak, yang dengan penuh haru menceritakan perjalanan panjangnya dalam mengabdikan diri kepada teman-teman tuli. “Saya mempunyai visi yaitu mengabdi kepada teman-teman tuli. Berdakwah dengan orang-orang tuli. Saya juga memperjuangkan anak-anak tuli agar bisa kuliah dan mendapatkan pendidikan yang layak seperti yang lainnya. Terima kasih kepada semua yang hadir yang telah memberikan perhatian dan dukungan kepada kami,” ujarnya.


Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi yang interaktif dan penuh makna. Beberapa pertanyaan inspiratif dilontarkan oleh peserta. Bapak Andi Rahadian, salah satu peserta yang berprofesi sebagai Anggota Kepolisian Kota Pontianak, bertanya tentang adanya program pertukaran pelajar atau mahasiswa tuli ke Malaysia. Prof. Dr. Tarmizi Bin Masron menjawab bahwa di UNIMAS memang ada program pertukaran pelajar, tetapi untuk pelajar tuli, beliau belum mengetahui secara pasti. “Nanti akan saya tanyakan dan akan saya sampaikan terkait bagaimana jika ada pertukaran pelajar yang tuli,” ujarnya. Seorang mahasiswa PkM UNTAN bertanya tentang bagaimana memberikan keyakinan kepada orang-orang tuli. Prof. Tarmizi menjawab bahwa dengan memberikan pengalaman dan ruang kepada mereka untuk bermain di luar serta membiasakan mereka untuk bersosialisasi akan membantu membentuk keyakinan mereka. Arul Maulana juga bertanya tentang upaya program yang dibuat di UNIMAS untuk penyandang tuli. YB Datuk Rioki menjawab bahwa di Sarawak ada program khusus untuk orang-orang tuli dan sudah diupayakan bahwa 1% orang-orang disabilitas bekerja di bawah kerajaan Sarawak. “Kami melakukan simposium yaitu mengumpulkan orang-orang tuli yang menjadi petugas atau pekerja di sana. Kami juga membimbing mereka bukan hanya dalam bidang pendidikan, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan usaha,” jelasnya.



Sebelum acara ditutup, para tamu menyampaikan pesan-pesan inspiratif. YB Datuk Rioki menekankan pentingnya simposium dan pembinaan bagi penyandang tuli, tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga ekonomi dan usaha. Prof. Dr. Tarmizi Bin Masron mengingatkan peserta untuk selalu memiliki positive thinking. “Kita harus mampu menjadi orang yang positif thinking. Bahwasannya di diri kita bukan ada kekurangan, melainkan ada sesuatu yang berbeda dari diri kita dengan orang lain. Kita harus rajin mencari peluang dan bisa membantu mengembangkan potensi diri,” pesannya. Sepanjang kegiatan berlangsung, antusiasme peserta terlihat luar biasa. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi, menciptakan dialog yang komunikatif dan hangat. Hasil dan capaian dari kegiatan ini sangat memuaskan, dengan terjalinnya komunikasi yang erat antara berbagai pihak yang peduli terhadap pendidikan dan dakwah bagi penyandang tuli. FDKI IAIN Pontianak berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan dan dakwah inklusif di Kalimantan, serta mempererat hubungan akademik antara Indonesia dan Malaysia.



Humas FDKI IAIN Pontianak


