Pontianak – (fdki-iainptk.ac.id) Menjadi mahasiswa bukan sekadar duduk di bangku kuliah dan menyelesaikan tugas akademik. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah tentang bagaimana ilmu yang dipelajari dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Inilah yang dirasakan oleh mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Pontianak yang sedang melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalimantan Barat. Pada Rabu (16/9/2026), kami berkesempatan turut ambil bagian dalam kegiatan sosialisasi mengenai bullying, cyberbullying, dan pendampingan anak di era digital yang dilaksanakan di kediaman Ibu Aminah bersama Majelis Burdah Nisa Asshofa. Kegiatan ini bukan hanya menjadi rutinitas PKL, tetapi menjadi ruang pembelajaran berharga bagi kami untuk melihat langsung bagaimana pengetahuan dan keterampilan Bimbingan dan Konseling Islam dibutuhkan di tengah masyarakat.

Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh anggota Majelis Burdah Nisa Asshofa dan menghadirkan salah satu pengurus KPPAD Provinsi Kalimantan Barat, Ibu Nani Wirdayani, S.T., S.H., sebagai narasumber. Sebagai mahasiswa PKL, kami menyimak dengan seksama setiap pemaparan yang disampaikan. Ibu Nani menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari anak. “Akses yang luas terhadap internet dan media sosial memberikan peluang bagi anak untuk memperoleh informasi dan berinteraksi, tetapi pada saat yang sama menghadirkan berbagai risiko, termasuk bullying dan cyberbullying. Oleh karena itu, pendampingan dari orang tua dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak,” ujarnya. Kami pun menyadari bahwa pendampingan anak tidak cukup dilakukan dengan memberikan batasan terhadap penggunaan gawai, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang terbuka, perhatian, dan pengawasan yang penuh kasih sayang.
Bagi kami, pengalaman ini memberikan insight yang sangat penting. Kami dapat melihat secara langsung bahwa peran calon profesional BKI tidak hanya berlangsung dalam ruang layanan konseling, tetapi juga dapat diwujudkan melalui edukasi, pencegahan, penguatan kepedulian masyarakat, serta keterlibatan dalam membangun lingkungan yang lebih aman bagi anak. Ibu Nani juga menyampaikan kasus yang berkaitan dengan lingkungan kampus Universitas Tanjungpura (UNTAN) sebagai bahan pembelajaran. Pembahasan kasus tersebut memperluas pemahaman kami bahwa perlindungan dan pendampingan tidak berhenti pada lingkungan keluarga, tetapi juga membutuhkan kepedulian dari lembaga pendidikan dan masyarakat. Kami pun terlatih untuk mendengarkan persoalan masyarakat, memahami konteks permasalahan, dan menghubungkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dengan kebutuhan pendampingan di lapangan.

Keterlibatan kami dalam kegiatan ini juga selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 16 yang mendorong terciptanya masyarakat yang damai, inklusif, serta perlindungan terhadap kelompok rentan. Dalam konteks PKL, kontribusi tersebut diwujudkan melalui proses belajar yang berbasis pengalaman sekaligus keterlibatan langsung dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai perlindungan dan pendampingan anak. Dengan demikian, PKL menjadi lebih dari sekadar kegiatan akademik; ia menjadi sarana bagi kami untuk belajar, berkontribusi, dan membangun kepedulian sosial. Sosialisasi pendampingan anak di era digital bersama KPPAD Provinsi Kalimantan Barat ini menjadi pengalaman penting bagi kami, mahasiswa PKL BKI IAIN Pontianak, dalam memahami persoalan anak dan dinamika lingkungan digital secara lebih nyata. Melalui pengalaman tersebut, kami memperoleh makna bahwa kompetensi BKI dapat diinternalisasikan ke dalam kontribusi nyata di masyarakat, baik melalui edukasi, pencegahan, maupun pendampingan.
Penulis: Haliamah & Urai Sri Wahyuni (Mahasiswa PKL BKI FDKI IAIN Pontianak)
Editor: Humas FDKI IAIN Pontianak


