Pontianak, (fdki.iainptk.ac.id) 11 Juni 2026 – Suasana berbeda terasa di Ruang Rapat Dekanat Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Pontianak, Rabu (11/6/2026). Hari ketiga pelaksanaan Short Course Relawan Pendampingan Mahasiswa Disabilitas yang diselenggarakan oleh Pusat Disabilitas LP2M IAIN Pontianak berlangsung penuh makna. FDKI bertindak sebagai tuan rumah, sementara peserta yang hadir berasal dari berbagai fakultas di lingkungan IAIN Pontianak, terdiri dari mahasiswa dan tenaga kependidikan yang memiliki semangat tinggi untuk menjadi relawan pendamping yang kompeten dan berempati.

Kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar besar IAIN Pontianak untuk mewujudkan cita-cita sebagai kampus inklusif yang ramah terhadap segala perbedaan dan kebutuhan.

Pusat Disabilitas LP2M: Short Course untuk Meningkatkan Kapasitas Relawan

Ibu Nopita Sari, M.Pd, Koordinator Pusat Layanan Disabilitas LP2M IAIN Pontianak, menjelaskan bahwa Pusat Layanan Disabilitas IAIN Pontianak sukses menyelenggarakan Short Course Relawan Pendamping Mahasiswa Disabilitas Tahun 2026.

“Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa dan tenaga kependidikan dari masing-masing fakultas di lingkungan IAIN Pontianak. Antusiasmenya luar biasa,” ujar Ibu Nopita Sari.

Beliau memaparkan bahwa short course ini dirancang sebagai ruang peningkatan kapasitas bagi calon relawan pendamping. Para peserta dibekali berbagai materi penting, antara lain:

  1. Pengenalan ragam disabilitas
  2. Prinsip-prinsip pendidikan inklusi
  3. Teknik komunikasi efektif
  4. Etika pendampingan
  5. Praktik aksesibilitas di lingkungan akademik

“Setelah short course ini, kami yakin layanan pendampingan untuk mahasiswa disabilitas akan semakin berkualitas, beretika, dan berempati,” tegasnya.

Lebih lanjut, Ibu Nopita Sari menargetkan terbentuknya jejaring relawan lintas fakultas yang mampu memberikan pendampingan yang lebih merata dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa disabilitas, baik di ruang kuliah, kegiatan kemahasiswaan, maupun layanan administrasi akademik.

“Terlibatnya mahasiswa dan tenaga kependidikan dari masing-masing fakultas menunjukkan komitmen bersama membangun kampus inklusif,” tambahnya.

Sekretaris LP2M: Ini Ikhtiar Bersama Mewujudkan Kampus Inklusif

Sementara itu, Bapak Andry Fitriyanto, M.Ud, Sekretaris LP2M IAIN Pontianak, menyampaikan apresiasi dan harapannya terhadap keberlanjutan kegiatan ini.

“Ini adalah ikhtiar bersama untuk mewujudkan cita-cita IAIN Pontianak sebagai kampus inklusif. Saya mohon dukungan dari para pimpinan dan seluruh civitas akademika kampus agar langkah ini bisa terus berjalan dan berdampak konkret bagi lingkungan kita,” ujar Andry Fitriyanto.

Beliau menekankan bahwa pendampingan mahasiswa disabilitas bukanlah tanggung jawab satu unit saja, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh keluarga besar IAIN Pontianak.

Testimoni Perwakilan FDKI: Belajar Memahami, Bukan Sekadar Melayani

FDKI mengutus Saudara Egi Ariandi, S.Pd, Operator SISKA FDKI IAIN Pontianak, untuk mengikuti short course ini. Dalam testimoni yang disampaikannya, Egi mengungkapkan tiga poin penting yang menjadi kesannya selama mengikuti kegiatan.

  1. Mengetahui Perilaku yang Tepat dalam Melayani “Kegiatan ini sangat menarik. Karena dengan adanya kegiatan ini, kami dapat mengetahui perilaku-perilaku yang harus dilakukan dalam melayani kawan-kawan pejuang inklusi. Sehingga dalam pelayanan, kita tidak menyinggung perasaan mereka,” ujar Egi.
  2. Tidak Perlu Diperlakukan Spesial: Poin kedua yang disampaikan Egi cukup mengejutkan sekaligus membuka wawasan banyak orang. “Dengan kegiatan ini, kami mengetahui bahwa teman-teman disabilitas atau pejuang inklusi tidak perlu diperlakukan dengan spesial. Mereka sudah berdamai dengan diri mereka sendiri. Jadi kita tidak perlu mengingatkan mereka dengan perilaku spesial yang justru bisa membuat mereka merasa tidak nyaman.” Pernyataan Egi ini menjadi pelajaran berharga bahwa pendampingan yang baik bukanlah memberikan perlakuan berlebihan yang bersifat “kasihan”, melainkan memberikan kesetaraan dan akses yang sama tanpa mengurangi martabat mereka.
  3. Harapan Belajar Bahasa Isyarat: “Harapan saya, kegiatan ini tetap berlanjut, terutama bagi kami para tendik supaya kami bisa belajar bahasa isyarat bagi pelayanan di IAIN Pontianak. Karena dengan menguasai bahasa isyarat, insyaAllah pelayanan kita akan lebih inklusif dan ramah terhadap semua kalangan,” pungkas Egi.

FDKI: Bangga Menjadi Tuan Rumah

Sebagai tuan rumah di hari ketiga, FDKI IAIN Pontianak menyatakan rasa bangga dan komitmennya untuk terus mendukung program-program inklusi di lingkungan kampus. FDKI sangat terbuka untuk menjadi lokasi berbagai kegiatan yang bertujuan membangun kesadaran inklusi. FDKI berkomitmen menjadi fakultas yang ramah terhadap semua kalangan, termasuk mahasiswa disabilitas. FDKI akan terus mendukung setiap langkah Pusat Disabilitas LP2M dalam mewujudkan IAIN Pontianak sebagai kampus inklusif.

Harapan ke Depan: Jejaring Relawan Lintas Fakultas yang Solid

Dengan terselenggaranya short course ini, diharapkan akan lahir jejaring relawan pendamping yang solid dan tersebar di setiap fakultas di lingkungan IAIN Pontianak. Jejaring ini akan menjadi ujung tombak layanan pendampingan yang cepat, tepat, dan penuh empati bagi mahasiswa disabilitas.

Ibu Nopita Sari dalam testimoninya dengan pesan optimis: “Dengan terbentuknya jejaring relawan lintas fakultas, saya menargetkan pendampingan yang lebih merata dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa disabilitas, baik di ruang kuliah, kegiatan kemahasiswaan, maupun layanan administrasi akademik.”

Harapan yang paling besar yaitu kegiatan ini bisa meninggalkan kesan mendalam bahwa IAIN Pontianak sedang bergerak bersama menuju satu tujuan mulia: kampus yang inklusif, ramah, dan setara untuk semua.

Humas FDKI IAIN Pontianak